Senin, 29 Juni 2015

Makalah Pribadi Disiplin

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Disiplin  sangat  penting  untuk  pertumbuhan organisasi, digunakan terutama  untuk memotivasi  pegawai agar dapat  mendisiplinkan diri   dalam melaksanakan pekerjaan  baik secara  perorangan  maupun kelompok. Disamping itu disiplin  bermanfaat mendidik pegawai  untuk mematuhi dan menyenangi  peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik.
Kurang  pengetahuan tentang peraturan,  prosedur,  dan kebijakan yang ada  merupakan  penyebab  terbanyak  tindakan  indisipliner. Salah satu upaya  untuk mengatasi hal tersebut  pihak  pimpinan sebaiknya  memberikan program orientasi  kepada tenaga  pegawai  yang baru pada  hari pertama mereka bekerja, karena  pegawai  tidak dapat diharapkan  bekerja dengan baik dan patuh, apabila  peraturan/prosedur atau kebijakan  yang ada  tidak diketahui, tidak jelas, atau tidak dijalankan  sebagai mestinya.  Selain  memberikan  orientasi,  pimpinan  harus menjelaskan  secara rinci peraturan peraturan yang sering  dilanggar, berikut rasional dan konsekwensinya. Demikian pula  peraturan/prosedur atau kebijakan  yang mengalami perubahan atau diperbaharui, sebaiknya diinformasikan   kepada staf  melalui diskusi aktif. Disiplin merupakan sikap dan perilaku. Artinya, sikap dan perilaku untuk mentaati peraturan organisasi muncul dari dalam dirinya. Niat untuk mentaati peraturan merupakan suatu kesadaran bahwa tanpa didasari unsur ketaatan, tujuan organisasi tidak akan tercapai.
Niat juga dapat diartikan sebagai keinginan untuk berbuat sesuatu atau kemauan untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan. Sikap dan perilaku dalam disiplin kerja ditandai dengan berbagai inisiatif, kemauan dan kehendak untuk mentaati peraturan. Artinya, orang yang dikatakan mempunyai disiplin tinggi tidak semata-mata patuh dan taat terhadap peraturan secara kaku dan mati, tetapi juga mempunyai kehendak (niat) untuk menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan organisasi.
Dengan perubahan perilaku melalui peningkatan disiplin diri akan dapat beradaptasi
dengan arus perubahan, karena nasib dan eksistensi negara-bangsa saat ini maupun pada masa depan tampaknya juga sangat ditentukan oleh kesanggupan mengelola perubahan agar tidak mudah tergelincir dan terempas.
Kita dapat melihat misalnya negara komunis seperti Uni Soviet, ambruk dan hilang dari panggung sejarah karena tidak mampu melakukan adaptasi terhadap arus perubahan. Dan sebaliknya, kita dapat melihat negara RRC bisa maju sedangkan masih menganut paham komunisme (identik dengan keterbelakangan), antara lain karena disiplin dan kerja keras, serta dapat menyesuaikan dengan perubahan.

















B.   Rumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah : bagaimana gambaran cermin pribadi yang disiplin itu?

C.   Tujuan Penulisan
Tujuannya adalah agar pembaca dapat mengetahui cermin pribadi disiplin di dalam kehidupan sehari-hari serta mengetahui bagaimana cara menerapkannya. Selain itu Supaya kita dapat menyadari betapa sungguh disiplin itu penting dalam perkembangan pribadi serta masa depan yang bersangkutan. Oleh karena itu diharapkan dapat memberikan motivasi lebih baik dan kita dapat menjalankan segala sesuatunya lebih dewasa.












BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Disiplin
Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib.
Menurut Moeliono (1993: 208) disiplin artinya adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya.
Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, Disiplin berarti melatih batin dan watak supaya perbuatannya menaati tata tertib. Disiplin diri berarti melatih diri melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur secara berkesinambungan untuk meraih impian dan tujuan yang ingin dicapai dalam hidup. Dan dapat kita simpulkan yaitu  perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting.
Dalam informasi tentang wawasan Wiyatamandala, kedisiplinan guru diartikan sebagai sikap mental yang mengandung kerelaan mematuhi semua ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan taggung jawab. Kedisiplinan guru dan pegawai adalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan norma yang ada dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak didiknya. Karena bagaimana pun seorang guru atau tenaga kependidikan (pegawai), merupakan cermin bagi anak didiknya dalam sikap atau teladan, dan sikap disiplin guru dan tenaga kependidikan (pegawai) akan memberikan warna terhadap hasil pendidikan yang jauh lebih baik.
Pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman dimana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada

B.   Macam-Macam Disiplin

1.  Disiplin dalam Menggunakan Waktu
Maksudnya bisa menggunakan dan membagi waktu dengan baik. Karena waktu amat berharga dan salah satu kunci kesuksesan adalah dengan bisa menggunakan waktu dengan baik.
2.  Disiplin dalam Beribadah
Maksudnya ialah senantiasa beribadah dengan peraturan-peraturan yang terdapat didalamnya. Kedisiplinan dalam beribadah amat dibutuhkan, Tuhan senantiasa menganjurkan manusia untuk Disiplin, sebagai contoh firman Tuhan.
3.  Disiplin dalam Masyarakat
Di dalam masyarakat terdapat peraturan-peraturan yang disepakati oleh masyarakat tersebut.   Misalnya di dalam suatu perumahan terdapat peraturan ‘TAMU WAJIB LAPOR’ itu merupakan bentuk disiplin agar masyarakat lain tidak diantara faktor- faktor yang mempengaruhinya adalah:
           1) Faktor tuntutan materi lebih banyak sehingga bagaimana pun jalannya, banyak ditempuh untuk menutupi tuntutan hidup
           2) Munculnya selera beberapa manusia yang ingin terlepas dari ikatan dan aturan serta ingin sebebas-bebasnya
           3) Pola dan sistem pendidikan yang sering berubah
           4) Motivasi belajar para peserta didik dan para pendidik menurun
           5) Longgarnya peraturan yang ada sembarangan memasuki yang bukan daerahnya
4.  Disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Kedisiplinan merupakan hal yang amat menentukan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan, sampai terjadi erosi disiplin maka pencapaian tujuan pendidikan akan terhambat.

C.   Manfaat Disiplin

1.      Menumbuhkan kepekaan
Seseorang tumbuh menjadi pribadi yang peka/berperasaan halus dan percaya pada orang lain. Sikap ini memudahkan dirinya mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, termasuk orang tuanya. Jadinya, anak akan mudah menyelami perasaan orang lain juga.
2.      Menumbuhkan kepedulian
Seseorang menjadi peduli pada kebutuhan dan kepentingan orang lain.Disiplin membuat seseorang memiliki integritas, selain dapat memikul tanggung jawab, mampu memecahkan masalah dengan baik ,cepat dan mudah.
3.      Mengajarkan keteraturan
Seseorang jadi mempunyai pola hidup yang teratur dan mampu mengelola waktunya dengan baik
4.      Menumbuhkan ketenangan
Menurut penelitian menunjukkan bayi yang tenang/jarang menangis ternyata lebih mampu memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan baik. Di tahap selanjutnya bahkan ia bisa cepat berinteraksi dengan orang lain.
5.      Menumbuhkan percaya diri
Sikap ini tumbuh berkembang pada saat seseorang diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang mampu ia kerjakan dengan sendiri.

6.      Menumbuhkan kemandirian
Dengan kemandirian seseorang dapat diandalkan untuk bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Seseorang juga dapat mengeksplorasi lingkungan dengan baik.Disiplin merupakan bimbingan yang tepat pada seseorang untuk sanggup menentukan pilihan yang bijak.
7.      Menumbuhkan keakraban
Seseorang menjadi cepat akrab dan ramah terhadap orang lain karena kemampuannya beradaptasi lebih terasah.
8.      Membantu perkembangan otak
Pada usia 3 tahun pertama, pertumbuhan otak anak sangat pesat, disini ia menjadi peniru perilaku yang piawai. ia mampu mencontoh dengan sempurna tingkah laku orang tua yang disiplin dengan sendirinya akan membentuk kebiasaan dan sikap yang positif.
9.      Membantu anak yang “sulit”
Kadang-kadang kita lupa pada seseorang yang berkebutuhan khusus yang memerlukan penangan khusus, melalui disiplin yang menekankan keteraturan seseorang berkebutuhan khusus bisa hidup lebih baik.
10.  Menumbuhkan kepatuhan
Hasilnya seseorang akan menuruti aturan yang ditetapkan orangtua atas kemauan sendiri.







D.   Cermin Pribadi Disiplin
Pada dasarnya ada dua dorongan yang mempengaruhi disiplin :
1) Dorongan yang datang dari dalam diri manusia yaitu dikarenakan adanya pengetahuan, kesadaran, keamanan untuk berbuat disiplin
2) Dorongan yang datangnya dari luar yaitu dikarenakan adanya perintah, larangan, pengawasan, pujian, ancaman, hukuman dan sebagainya.
Disiplin diri merupakan kunci bagi kedisiplinan pada lingkungan yang lebih luas lagi. Contoh disiplin diri pribadi yaitu tidak pernah meninggalkan Ibadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Disiplin diri dari sudut pandang Sosiologi dan Psikologis diartikan sebagai suatu proses belajar dalam individu secara progresif belajar mengembangkan kebiasaan diri serta mengakui tanggung jawab pribadinya terhadap masyarakat. Dengan demikian disiplin pribadi adalah sifat dan kebiasaan yang langsung melekat pada diri seseorang. Dari sifat dan kebiasaan itulah akan timbul sifat dan kemauan di dalam tingkah laku untuk mematuhi dan taat pada suatu aturan secara sadar, bebas dari perdebatan-perdebatan dan perselisihan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Disiplin ini akan memberikan kerangka dalam keteraturan hidup selanjutnya.
Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja tidak melakukan sesuatu yang menurutnya memuaskan dan menyenangkan dengan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang ia inginkan dan menyumbangkan uang tersebut kepada organisasi amal dengan pikiran bahwa hal tersebut lebih penting. Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti Pengikut. Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan.
Disiplin diri akan terasa manfaatnya jika kita memiliki suatu impian dan cita – cita yang ingin dicapai. Kita harus mendisiplinkan ( melatih ) diri untuk mengerjakan hal – hal yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, di dunia ini dibuat peraturan – peraturan yang disertai hukuman yang setimpal. Hal ini tidak lain agar setiap manusia mau belajar hidup disiplin dan menaati aturan yang ada sehingga dunia tidak kacau balau dan seseorang tidak dapat berbuat sekehendak hatinya.
Kebiasaan yang kita lakukan akan menentukan masa depan kita. Kebiasaan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik, begitupun sebaliknya, namun untuk membiasakan kebiasaan baik itu tidak mudah. Mengapa demikian ?
  1. Manusia memiliki sifat – sifat mendasar seperti : cenderung bermalas -malasan, ingin hidup seenaknya mengikuti keinginan hatinya dan keinginan untuk melanggar peraturan – peraturan yang ada.
2.      Kita selalu menganggap pekerjaan sebagai suatu kewajiban apapun beban yang harus dilakukan, bukan sebagai kesenangan. Pepatah mengatakan “ kita akan lebih mudah menerapkan disiplin diri jika kita mencintai apa yang kita kerjakan
3.      Manusia cenderung cepat bosan jika melakukan kegiatan yang sama dalam jangka waktu lama.

Salah satu karakteristik utama dari disiplin diri adalah kemampuan meninggalkan kebiasaan instan, cepat puas, dan kesenangan, yang memiliki keuntungan yang lebih besar atau hasil yang memuaskan, walau ini memerlukan usaha dan waktu. Disiplin diri memberikan Anda kekuatan untuk tetap pada keputusan Anda dan terus mengikuti, tanpa mengubah pemikiran Anda, karena itu salah satu persyaratan penting untuk menggapai tujuan.
Memiliki disipin diri memungkinkan Anda untuk memilih, dan kemudian tekun dalam bertindak, berpikir, dan berperilaku, yang berujung pada kemajuan dan kesuksesan. Juga memberikan Anda kemampuan dan inner strength untuk mengatasi ketergantungan, sikap menunda-nunda, dan kemalasan serta terus mengikuti apapun yang Anda lakukan.
Berbeda dengan kepercayaan umum, disiplin diri bukanlah sesuatu yang sulit dan terbatas manfaatnya atau membatasi gaya hidup. Ini unsur yang sangat penting untuk kesuksesan, semua bentuk kesuksesan. Ia mengekspresikan dirinya sebagai ketekunan, kemampuan untuk pantang menyerah walau gagal dan mundur, sebagai kontrol diri, dan sebagai kemampuan untuk melawan godaan dan gangguan yang cenderung bertahan di jalan untuk menggapai sasaran dan tujuan.
Kemampuan ini membawa pada kepercayaan diri, harga diri dan inner strength, serta membawa kebahagiaan dan kepuasan.
Disiplin diri penting untuk mengatasi gangguan makan, ketergantungan, rokok, minum dan kebiasaan negatif lainnya. Ini juga merupakan syarat penting untuk penelitian dan belajar, untuk mengembangkan keterampilan apapun, sukses dalam pengembangan diri, pertumbuhan spiritual dan meditasi.
Banyak orang mengetahui pentingnya dan manfaat disiplin diri, tapi hanya sedikit yang benar-benar melangkah untuk mengembangkan dan memperkuatnya. Kemampuan ini bisa diperkuat dan dikembangkan seperti keterampilan lain, selama latihan. Ya, Anda bisa mengembangkan disiplin diri dengan latihan khusus, yang bisa Anda praktikkan kapanpun dan dimanapun.

E.   Jenis-Jenis Pribadi Disiplin

a.Disiplin Preventif
Adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong para karyawan agar mengikuti berbagai standar dan aturan, sehingga penyelewengan-penyelewengan dapat dicegah. Sasaran pokoknya adalah untuk mendorong disiplin diri karyawan. Dengan cara ini karyawan menjaga disiplin diri mereka dan bukan karena suatu paksaan.

b. Disiplin Korektif
Adalah kegiatan diambil untuk menangani pelenggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba menghindari pelanggaran-pelanggaran berikutnya. Kegiatan korektif sering berupa sesuatu bentuk hukuman dan disebut tindakan kedisiplinan. Sasaran-sasaran tindakan pendisiplinan hendaknya positf, bersifat mendidik dan menilai, bukan tindakan negatif yang bersifat menjatuhkan. Secara umum tindakan pendisiplinan adalah sebagai berukut :
1) Untuk memperbaiki pelanggaran
2) Untuk menghalangi karyawan lain melakukan pelanggaran serupa
3) Untuk menjaga berbagai standar agar tetap konsisten dan efektif.


c. Disiplin Progresif
Adalah kegiatan yang memberikan hukuman-hukuman lebih berat terhadap pelanggaran-pelanggaran yang berulang. Tujuannya memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mengambil tindakan korektif sebelum dikenakan hukuman yang lebih berat. Sebuah contoh sistem disiplin progresif yang disusun atas dasar tingkat berat atau kasarnya hukuman secara ringkas dapat ditujukan sebagai berikut :
1) Teguran secara lisan oleh penyelia
2) Teguran tertulis, dengan catatan dalam file personalia
3) Skorsing dari pekerjaan satu sampai tiga hari
4) Skorsing satu minggu atau lebih
5) Diturunkan pangkatnya

F.    Tips Pribadi yang Disiplin
1.Tetapkan tujuan Anda dalam waktu dekat
Menetapkan tujuan dalam waktu dekat adalah hal yang sangat baik. Jika Anda sudah mempunyai tujuan yang jelas dalam waktu dekat, senantiasa Anda akan melewati proses-proses. Segala proses-proses tersebut pasti akan Anda lewati dengan disiplin agar tujuan Anda tercapai.
2. Buanglah alasan-alasan Anda
Semua alasan itu sangat menggangu. Setiap alasan yang Anda miliki, buanglah sejauh-jauhnya.
3. Ciptakan rutinitas
Jangan menunggu rutinitas ini kebetulan terjadi. Saat Anda sedang mendisiplinkan diri, sama halnya saat memprogram sebuah robot. Tidak ada emosi yang terlibat. Sesederhana “Jika ini.. maka.. itu”.
Karena itulah sebuah perencanaan sangat krusial. Anda tidak perlu menentukan apa yang harus Anda lakukan setiap bangun pagi. Anda tidak perlu memilih dari 100 keputusan yang bisa diambil. Anda memutuskan satu kali untuk menjalankan rencana tersebut dan bangun setiap pagi untuk melaksanakannya. Anda sudah memutuskan dan akan menjalankannya. Anda tidak perlu memutuskan apa-apa lagi, Anda hanya perlu melakukannya.
4. Putuskan bahwa hal ini benar-benar bernilai
Tentu, membuat keputusan awal akan sangat sulit.
Tanyakan pada diri sendiri, seberapa Anda menginginkannya? Anda tentu harus mengorbankan sesuatu. Jika Anda benar-benar menginginkannya, maka pastinya hal tersebut sangat bernilai. Jika Anda memutuskan hal tersebut bernilai untuk Anda, maka…
5. Berinvestasilah di dalamnya
Uang memang memiliki cara untuk mengatur prioritas Anda. Di manakah Anda menghabiskan kebanyakan waktu Anda? Lihatlah ke mana Anda paling banyak menghabiskan uang. Mungkin ada korelasi pada keduanya.
Berinvestasilah dalam apapun yang ingin Anda lakukan. Buatlah keadaan apabila Anda tidak mencapainya menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Ada seseorang yang memulai tantangan mendapatkan perut sixpack, ia memberi tahu temannya bahwa ia akan memberikan $500 pada orang yang paling ia benci, musuh bebuyutannya.
Tentunya, setiap pagi ia akan berpikir sebagaimana kesalnya memberikan uang $500 pada orang yang paling dibencinya.
Setelah dua minggu pertama, ia sudah memiliki momentum yang cukup sehingga tidak membutuhkan motivasi lagi, tapi harus sangat yakin bahwa pada minggu-minggu pertama investasi tersebut cukup kuat untuk membuat disiplin menjadi prioritasnya.
Berinvestasilah pada tujuan Anda. Bertaruh atau sewalah seorang pelatih, tapi berinvestasilah pada sesuatu yang benar-benar berarti bagi Anda, dan akan membantu untuk mengubah prioritas sesuai yang Anda mau.

6. Teruslah melakukannya
Saat Anda benar-benar ingin menyerah, jangan berhenti. Teruskan. Disiplin tidak bergantung pada perasaan Anda. Hal ini akan tetap berjalan walaupun seberapa jeleknya mood Anda.
When you think you are done, you’re only 40% of what your body is capable of doing. That’s just the limit that we put on ourselves. – David Goggins
7.  Just tell your brain that you will do it
Hilangkan otak Anda dari cara pikir Anda. Pikiran Anda sangat-sangat menggangu. ‘Dia’ akan memberitahu Anda segala hal yang tidak bisa Anda lakukan karena ingin memproteksi dirinya sendiri. ‘Dia’ mau main aman saja. ‘Dia’ ingin tetap nyaman.
Sedangkan, badan Anda akan duduk diam dan tidak mengatakan apapun, walaupun dia tahu bahwa mampu melakukan triathlon, marathon, memanjat gunung, dan mendapat six pack jika Anda memberinya kesempatan.
Suruhlah pikiran Anda diam dan lakukan saja. Turn off otak Anda. Saat otak Anda mengatakan bahwa hal tersebut mustahil, katakan padanya, Terima kasih, tapi saya tetap akan melakukannya.
8. . Buatlah dan laksanakan jadwal kegiatan tertulis (to do list)
Otak kita memang mampu menyimpan memori. Tetapi otak kita tidak sanggup menyimpan segala memori tersebut. Otak manusia selalu bekerja tanpa henti. Ada kalanya kita tidak menyimpan semua daftar kegiatan kita di dalam otak. Disarankan untuk menerapkan to do list setiap hari. Sediakan satu buku, tulis daftar kegiatan Anda dalam sehari mulai dari pagi hingga menjelang tidur di dalam buku tersebut. Satu per satu kegiatan yang sudah Anda kerjakan di checklist dan kerjakan kegiatan yang belum terlaksana. Dengan begitu Anda akan lebih disiplin dalam melaksana deadline kegiatan Anda setiap hari (tidak mengulur-ulur waktu).


G.   PELAKSANAAN DISIPLIN

1. Pengalaman di Negara yang Sudah Maju
Bercermin pada negara-negara yang sudah maju atau mendekati negara maju, maka budaya disiplin telah melekat pada masyarakatnya terutama pada pemimpin-pemimpin bangsa yang menjadi panutan rakyat. Umpamanya kita bisa melihat pemimpin dari negeri jiran Singapura kala itu, Lee Kuan Yew, yang dikenal perfeksionis dan pekerja keras. Ia menjadi perdana menteri ketika usianya masih 35 tahun. Dalam biografinya Kuan Yew berarti “cahaya yang bersinar terang dan luas”. Lee Kuan Yew adalah sosok seorang intelektual. Didikan orang tuanya membuat ia mempunyai pribadi yang kuat, tegas dan disiplin, dan menghantarkan Singapura sebagai industri maju di kawasan Asia Tenggara dan para industriawannya merambah ke berbagai negara termasuk membeli saham mayoritas (waktu itu) PT Indosat contoh lain seperti jasa penerbangan Singapura SIA (Singapura Internasional Airlines) dengan pelayanan yang paripurna. Tentu, menjadi contoh bagi semua negara sedang berkembang baik di Asia maupun di belahan dunia lain.
Begitu juga negeri jiran Malaysia, yang waktu itu dinakhodai oleh Mahatir Muammad juga mempunyai pribadi yang kuat, tegas, dan disiplin menghantarkan rakyat kepada kemakmuran dan para industriawannya telah merambah ke berbagai negara termasuk membeli saham mayoritas PT Bank Niaga yang sekarang menjadi Cimb Niaga.
Negara yang berpaham komunis, seperti China juga berhasil memajukan negerinya, bukan hanya ekonomi yang perkembangannya pesat, tapi juga bidang oleh raga menjuarai berbagai ajang olah raga kelas dunia. Puncaknya, China bertengger di puncak perolehan medali pada olimpiade Beijing 2008. Semua itu diperoleh melalui kerja keras dan disiplin tinggi.

2. Pengalaman di Negara Sedang Berkembang
Dalam perjalanan sejarahnya, bangsa Indonesia yang dianggap sebagai negara berkembang, telah mengalami kemerosotan kepribadian yang luar biasa, dibandingkan dengan masa pergerakan. Krisis karakter membuat korupsi merajalela, hipokritis/munafik, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, serta punya watak yang lemah.
Menurut Mochtar Lubis, yang disampaikan pada pidato kebudayaan 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, orasi yang dibukukan dengan judul Manusia Indonesia, secara blak-blakan mengupas karakter manusia Indonesia. Dia membuka semua topeng manusia Indonesia, dimaksudkan “agar orang Indonesia dapat melihat diri pribadi sendiri di depan kaca” katanya memberi alasan.
Menurut Muchtar, ciri manusia Indonesai itu adalah:
(1) manusia Indonesia adalah hipokritis atau munafik, (2) segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) berjiwa feodal, (4) manusia Indonesia masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan ghaib, (5) manusia Indonesia artistik. Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semuanya ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah, dan (6) manusia Indonesia tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa, gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa, serta cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati.
Selain membuka hal-hal yang buruk, pendiri harian Indonesia Raya itu tak lupa mengemukakan sifat yang baik. Misalnya, masih kuatnya ikatan saling tolong menolong. Manusia Indonesia pada dasarnya berhati lembut, suka damai, punya rasa humor, serta dapat tertawa dalam penderitaan. Manusia Indonesia juga cepat belajar dan punya otak encer serta mudah dilatih keterampilan. Selain itu, punya ikatan kekeluargaan yang mesra serta manusia penyabar.















H.  PERAN SEKOLAH MENJADIKAN SISWA PRIBADI DISIPLIN
Sekolah merupakan tempat bagi generasi calon pemimpin bangsa menimba ilmu pengetahuan dan berinteraksi dalam dunia keilmuan. Disadari atau tidak oleh siswa, sekolah menjadi salah satu tempat pendadaran bagi mereka untuk belajar tentang banyak hal agar kelak menjadi orang yang eksis dan sukses. Disiplin menjadi salah satu faktor yang dapat membantu seseorang meraih sukses, tidak terkecuali disiplin pada siswa.
Menurut Johar Permana, Nursisto (1986:14), Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Sedangkan menurut Wikipedia (1993:119) tujuan disiplin sekolah adalah untuk menciptakan keamanan dan lingkungan belajar yang nyaman terutama di kelas.
Di dalam kelas, jika seorang guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa. Sebutan orang yang memiliki disiplin biasanya tertuju kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat menaati peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat, pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu, misalnya sekolah. Maman Rachman (1999:83) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah : (1) memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya.
Membicarakan disiplin siswa, tidak terlepas dari persoalan prilaku negatif pada diri siswa, yang akhir-akhir ini semakin memprihatinkan. Berbagai tindak negatif dilakukan para pelajar di sekolah dari nyontek, bolos, memeras, sampai pelanggaran diluar sekolah seperti buat geng, berkelahi (tawuran) penyalahgunaan narkoba, sex bebas, mencuri sampai pada pelanggaran-pelanggaran  yang lebih membahayakan/merugikan diri sendiri dan orang lain.
Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku siswa. Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan dan perkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah. Semua bentuk ketidak disiplinan siswa di sekolah tentunya memerlukan upaya penanggulangan dan pencegahan.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan sekolah adalah;
1. Guru hendaknya bisa menjadi contoh dalam berdisiplin, misalnya tepat waktu. Siswa tidak akan memiliki disiplin manakala melihat gurunya sendiri juga tidak disiplin. Guru harus menghindari kebiasaan masuk menggunakan jam karet, molor dan selalu terlambat masuk kelas.
2. Memberlakukan peraturan tata tertib yang jelas dan tegas, sehingga mudah untuk diikuti dan mampu  menciptakan suasana kondusif untuk belajar
3. Secara konsisten para guru terus mensosialisasikan kepada siswa tentang pentingnya disiplin dalam belajar untuk dapat mencapai hasil optimal,  melalui pembinaan dan yang  lebih penting lagi melalui keteladanan.
Reisman dan Payne (E. Mulyasa, 2003) mengemukakan strategi umum merancang disiplin siswa, yaitu :
 (1) konsep diri; untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat berperilaku disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka;
 (2) keterampilan berkomunikasi; guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa;
 (3) konsekuensi-konsekuensi logis dan alami; guru disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu siswa dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah;
(4) klarifikasi nilai;  guru membantu  siswa dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri;
 (5) analisis transaksional; guru disarankan guru belajar sebagai orang dewasa terutama ketika berhadapan dengan siswa yang menghadapi masalah;
(6) terapi realitas; sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Guru perlu bersikap positif dan bertanggung jawab;
(7) disiplin yang terintegrasi; metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan; (modifikasi perilaku; perilaku salah disebabkan oleh lingkungan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran perlu diciptakan lingkungan yang kondusif;
 (8) tantangan bagi disiplin; guru diharapkan cekatan, sangat terorganisasi, dan dalam pengendalian yang tegas. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa peserta didik akan menghadapi berbagai keterbatasan pada hari-hari pertama di sekolah, dan guru perlu membiarkan mereka untuk mengetahui siapa yang berada dalam posisi sebagai pemimpin.










BAB III
KESIMPULAN
            Dengan demikian, telah kita simpulkan bahwa disiplin di sekolah itu sangat diperlukan. Karena dalam aplikasinya, kedisiplinan sangat berguna sebagai tolak ukur mampu atau tidaknya seseorang dalam mentaati aturan yang sangat penting bagi stabilitas kegiatan belajar mengajar. Selain itu sikap disiplin sangat diperlukan untuk di masa depan bagi pengembangan watak dan pribadi seseorang, sehingga menjadi tangguh dan dapat diandalkan bagi seluruh pihak.
            Oleh karena itu, marilah kita hidup berdisiplin. Agar kelak, kita dapat menjadi panutan setiap orang dan bisa diandalkan. Jika tidak dari sekarang kita membiasakan untuk berdisiplin, kapan lagi kita bisa merubah dunia ini? Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menjadi pedoman untuk menjadi lebih baik bagi para pembaca khususnya para siswa. Terima kasih.











DAFTAR PUSTAKA

 Srijanto Djarot, Drs., Waspodo Eling, BA, Mulyadi Drs. 1994 Tata Negara Sekolah Menengah Umum. Surakarta; PT. Pabelan.
Mochtar Lubis, 1986. Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban. Jakarta: Inti Iday Press.
Moekijat, 1987. Manajemen Kepegawaian. Jakarta: Alumni.
Nitisemito, Alex. S. 1991. Manajemen Personalia. Cetakan ke-8. Jakarta: Chalia Indonesia.

Siagian, S.P., 2000. Teori Pengembangan Organisasasi. Cetakan Ketiga, Jakarta: Bumi Aksara.

1 komentar:

  1. disiplin terhadap diri sendiri memang sangat perlu diterapkan karena akan berdampak baik

    BalasHapus